ESSAY KESUKSESAN DALAM
HIDUPKU
Menjadi anak pertama dari
empat bersaudara bukanlah hal yang mudah. Apalagi dengan kondisi penghasilan
orangtua saya yang tidak menentu. Ayah saya yang berprofesi sebagai wiraswasta,
seorang nelayan, dan ibu saya sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Ada
kondisi dimana kami sekeluarga bisa makan enak, dan seringkali kami harus puas
dengan lauk tempe atau hanya kerupuk. Menunggak bayaran sekolah adalah suatu
hal yang lazim dilakukan karena keterbatasan biaya. Saat masa sekolah, SD, SMP,
dan SMA, tidak mendapat kartu ujian karena belum bayar spp adalah hal rutin
yang harus aku dan adik-adikku alami. Puji Tuhan, meski begitu kami tetap bisa
melewatinya dan tetap bisa melanjutkan sekolah. Tiga di antara kami melanjutkan
jenjang kuliah dengan mendapat beasiswa.
Sejak SD, saya terbiasa
jualan untuk mendapat tambahan uang saku. Dari mulai permen, sticker, kue,
gorengan, hingga buku. Walaupun dengan hasil yang tidak seberapa, bangga
rasanya bisa menghasikan uang sendiri. Lulus SMA, saya bekerja paruh waktu di
salah satu toko sebagai kasir, sembari menunggu pengumuman kelulusan dan seleksi
masuk universitas. Puji Tuhan, saya diterima di salah satu universitas di kota
kupang.
Awal mula pendaftaran, saya
sempat ragu. Pasalnya belum ada biaya untuk mendaftar. Saya sempat mengutarakan
pada ibu untuk menunda kuliah setahun agar saya bisa melanjutkan kerja. Ibu
marah dan memaksa saya untuk tetap mendaftar kuliah. Di hari terakhir batas
pembayaran, uang yang ada masih belum mencukupi. Saya pasrah. Namun, tiba-tiba
siang hari, seorang kakak kelas di kampus, yang baru saya kenal saat awal
daftar ulang menelpon dan menanyakan keadaan saya. Ya, saya memang sempat
mengajukan masalah saya pada advokasi Himprosma ( Himpunan Mahasiswa Program
Studi Matematika). Bersyukurlah, kakak kelas itu menelpon dan memberitahukan
bahwa batas pembayaran diundur dan saya bisa memperoleh pinjaman Dana Pendidikan dari Himprosma untuk biaya
masuk kuliah saya. Tidak hanya itu saya juga direkomendasikan untuk mendaftar
beasiswa.
Syukur tak terhingga, saya
lolos beasiswa, dan untuk pertama kalinya dalam masa studi saya, saya tak
khawatir dengan biaya yang harus dibayar. Saya fokus kuliah. ikut berbagai
organisasi di kampus, dan juga mengikuti berbagai event perlombaan. Puji Tuhan
saya mendapat nilai yang cukup baik dan stabil.
Selain kulian, berorganisasi, dan mengikuti perlombaan, saya juga melakukan kerja paruh waktu sebagai tenaga pengajar di salah satu bimbingan belajar. Akhir pekan saya isi dengan menjadi guru privat. Saya anak pertama dan memiliki adik banyak. Saya harus bisa membantu orangtua saya. Begitu tekad yang saya bangun. Terkadang saya pernah iri dengan teman saya yang hanya memiliki fokus kehidupan di kampus. Bisa fokus belajar, berorganisasi, bergaul, dan sebagainya. Saya juga pernah lelah dengan padatnya jadwal yang saya miliki. Namun satu hal yang selalu saya percaya. Allah tidak akan memberi masalah kepada hambaNya di luar kemampuannya. Berarti Allah tahu saya cukup kuat melewati ini semua. Ya, dengan berbagai masalah yang ada membentuk karakter saya sebagai sosok yang mandiri.
Selain kulian, berorganisasi, dan mengikuti perlombaan, saya juga melakukan kerja paruh waktu sebagai tenaga pengajar di salah satu bimbingan belajar. Akhir pekan saya isi dengan menjadi guru privat. Saya anak pertama dan memiliki adik banyak. Saya harus bisa membantu orangtua saya. Begitu tekad yang saya bangun. Terkadang saya pernah iri dengan teman saya yang hanya memiliki fokus kehidupan di kampus. Bisa fokus belajar, berorganisasi, bergaul, dan sebagainya. Saya juga pernah lelah dengan padatnya jadwal yang saya miliki. Namun satu hal yang selalu saya percaya. Allah tidak akan memberi masalah kepada hambaNya di luar kemampuannya. Berarti Allah tahu saya cukup kuat melewati ini semua. Ya, dengan berbagai masalah yang ada membentuk karakter saya sebagai sosok yang mandiri.
NO. REGIS : 13115047
Tidak ada komentar:
Posting Komentar